0 Comments

Dr.KH. Mudrik Qori

Ada sebuah fenomena kecil yang sebenarnya menyimpan persoalan besar.

Sekelompok pengasuh pesantren berkumpul dalam satu grup WhatsApp. Masing-masing memposting kegiatan, prestasi, inovasi, keunggulan dan keunikan pesantrennya.

Tetapi setelah itu?

Sunyi.

Tidak ada apresiasi. Tidak ada komentar. Tidak ada pertanyaan. Tidak ada gagasan lanjutan. Bahkan sekadar emoji sebagai tanda bahwa “kami melihat dan ikut bahagia” pun hampir tidak ada.

Masing-masing berjalan sendiri.

Kalau demikian, apa sebenarnya yang sedang kita bangun?

Sebuah komunitas pesantren, atau sekadar kumpulan pesantren?

Pertanyaan ini mungkin terasa sederhana. Tetapi justru pertanyaan sederhana sering membuka persoalan yang paling dalam.

Pesantren Tidak Boleh Menjadi Pulau-Pulau yang Saling Membelakangi

Pesantren adalah lembaga pendidikan, dakwah dan pemberdayaan masyarakat.

Kementerian Agama mencatat lebih dari 42 ribu pesantren terdata di Indonesia. Data resmi 2024 juga menunjukkan sekitar 41 ribu pesantren dengan lebih dari 3,3 juta santri dalam cakupan data tertentu. (Kemenag CMS 2025⁠)

Angka sebesar itu seharusnya menjadi kekuatan kolektif.

Tetapi kekuatan kolektif tidak lahir hanya karena jumlahnya besar.

Ia lahir ketika satu pesantren merasa ikut gembira melihat kemajuan pesantren lain; ketika keberhasilan tetangga dianggap sebagai keberhasilan bersama; ketika masalah satu pesantren dipandang sebagai bahan belajar bagi yang lain.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ’Imran: 103).

Perhatikan kata جَمِيعًا — jamī‘an.

Bersama-sama.

Bukan sendiri-sendiri.

Kita Adalah Pewaris Nabi—Tetapi Apa yang Kita Warisi?

Ada satu hadis yang sangat terkenal:

العلماء ورثة الأنبياء

“Para ulama adalah pewaris para nabi.”

Rasulullah menjelaskan bahwa para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi ilmu. Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud dan Tirmidzi.

Tetapi menjadi pewaris nabi tentu tidak cukup dengan mewarisi ilmunya.

Kita juga perlu bertanya:

Apakah kita sedang mewarisi akhlaknya?

Rasulullah tidak membangun umat dengan ego sektoral.

Beliau membangun ukhuwah, komunikasi, kepercayaan, musyawarah dan kolaborasi.

Madinah bukan dibangun dengan setiap kelompok berkata, “Ini wilayah saya.”

Madinah dibangun dengan kemampuan Nabi Muhammad menghubungkan yang berbeda menjadi sebuah kekuatan bersama.

Maka, jika para pengasuh pesantren hanya sibuk menunjukkan kehebatan pesantrennya, tetapi tidak tertarik pada keberhasilan pesantren lain, ada sesuatu yang perlu kita renungkan.

Jangan-jangan kita sedang mewarisi gelar ulama, tetapi belum sepenuhnya mewarisi cara Nabi membangun umat.

Diam di Grup Boleh Jadi Lebih Berbahaya daripada yang Kita Sadari

Sebuah emoji mungkin tampak sepele.

Tetapi dalam sebuah komunitas, apresiasi kecil mempunyai makna besar.

Ketika seorang kiai memposting keberhasilan santrinya lalu kiai lain menjawab:

“Masya Allah, luar biasa. Bagaimana kiatnya?”

maka percakapan dimulai.

Dari percakapan lahir pertukaran pengalaman.

Dari pertukaran pengalaman lahir inovasi.

Dari inovasi lahir kolaborasi.

Dan dari kolaborasi lahir ekosistem.

Sebaliknya, ketika semua diam, setiap pesantren menyimpan pengalamannya sendiri.

Ilmu berhenti di pagar masing-masing pesantren.

Padahal Rasulullah bersabda:

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya seperti bangunan; sebagian menguatkan sebagian yang lain.”

(HR. Bukhari dan Muslim).

Bangunan tidak menjadi kokoh karena batu-batunya hebat secara individual.

Bangunan menjadi kokoh karena batu-batu itu saling mengikat.

Jangan Tunggu Kebakaran Baru Mencari Tetangga

Ada persoalan yang jauh lebih penting.

Dalam beberapa tahun terakhir, sebagian pengasuh merasakan kegelisahan tentang jumlah santri, persaingan lembaga pendidikan, perubahan preferensi orang tua, perkembangan sekolah modern, teknologi digital, dan perubahan perilaku generasi muda.

Saya kira persoalannya bukan untuk saling menyalahkan.

Justru inilah saatnya bertanya bersama:

Mengapa santri memilih atau tidak memilih pesantren kita?

Apa yang berubah dalam masyarakat?

Apa yang berubah dalam cara anak belajar?

Apa yang berubah dalam harapan orang tua?

Apa yang harus kita ubah tanpa kehilangan ruh pesantren?

Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan strategis seperti ini sering tidak menjadi percakapan bersama.

Masing-masing sibuk mempromosikan keunggulannya.

Padahal promosi tidak sama dengan refleksi.

Kita bisa sangat hebat dalam menceritakan apa yang kita miliki, tetapi belum tentu hebat dalam bertanya mengapa masyarakat mulai mencari sesuatu yang lain.

Di sinilah para pengasuh pesantren membutuhkan satu kualitas yang sangat penting:

kerendahan hati untuk belajar dari pesantren lain.

Dari “Pesantren Saya” Menjadi “Pesantren Kita”

Mungkin sudah waktunya paradigma itu digeser.

Bukan:

“Apa kehebatan pesantren saya?”

tetapi:

“Apa yang dapat saya pelajari dari pesantren Anda?”

Bukan:

“Bagaimana pesantren saya menjadi besar?”

tetapi:

“Bagaimana ekosistem pesantren kita menjadi kuat?”

Bukan kompetisi yang saling melemahkan.

Tetapi kompetisi yang melahirkan pembelajaran.

Pesantren A unggul dalam tahfiz.

Pesantren B unggul dalam bahasa.

Pesantren C unggul dalam kewirausahaan.

Pesantren D unggul dalam teknologi.

Pesantren E unggul dalam pengkaderan ulama.

Mengapa semuanya harus berjalan sendiri?

Bukankah lebih dahsyat jika keunggulan-keunggulan itu dipertemukan?

Satu pesantren tidak harus memiliki semuanya.

Yang diperlukan adalah jaringan pesantren yang saling melengkapi.

Mungkin Kita Tidak Kekurangan Pesantren. Kita Kekurangan Ekosistem Pesantren.

Ini mungkin inti persoalannya.

Indonesia tidak kekurangan kiai.

Tidak kekurangan pesantren.

Tidak kekurangan santri.

Tidak kekurangan program.

Yang mungkin masih kurang adalah kemampuan untuk saling menghubungkan kekuatan-kekuatan itu.

Maka sebuah grup WhatsApp para pengasuh pesantren seharusnya tidak berhenti sebagai etalase keberhasilan.

Ia dapat menjadi laboratorium peradaban pesantren.

Ada forum:

“Pesantren saya berhasil melakukan ini. Bagaimana pengalaman pesantren lain?”

Ada forum:

“Pesantren saya sedang menghadapi masalah ini. Adakah yang pernah mengalami dan menemukan solusinya?”

Ada forum:

“Mari kita tukar guru, metode, kurikulum, teknologi dan pengalaman.”

Ada forum:

“Mari kita bantu pesantren yang sedang mengalami kesulitan.”

Dan sesekali, cukup dengan kalimat sederhana:

“Masya Allah. Selamat. Semoga menginspirasi kami.”

Kalimat pendek.

Tetapi bisa menjadi energi panjang.

Karena Kita Bukan Raja

Setiap pengasuh memang memiliki otoritas di pesantrennya.

Tetapi otoritas itu adalah amanah, bukan kerajaan.

Pesantren bukan kerajaan pribadi.

Santri bukan rakyat.

Dan kiai bukan raja yang harus selalu dipuji.

Kita adalah pelayan ilmu dan umat.

Justru semakin tinggi kedudukan seseorang dalam dunia pendidikan, semakin luas seharusnya jangkauan kepeduliannya.

Rasulullah bersabda:

“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya… Siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

(HR. Bukhari).

Karena itu, mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri:

Ketika pesantren tetangga berhasil, apakah hati kita ikut bahagia?

Ketika pesantren lain kesulitan, apakah kita ikut memikirkan?

Ketika santri mereka berprestasi, apakah kita mengucapkan selamat?

Dan yang paling penting:

Ketika pesantren kita sendiri mulai menghadapi masalah, apakah kita masih merasa cukup pintar untuk menyelesaikannya sendirian?

Sebab boleh jadi, solusi yang kita cari selama bertahun-tahun sebenarnya sedang berada di pesantren sebelah.

Hanya saja kita terlalu sibuk berbicara tentang diri sendiri sehingga tidak sempat mendengarkan orang lain.

Barangkali inilah saatnya grup para pengasuh pesantren berhenti menjadi panggung untuk menunjukkan siapa yang paling hebat, dan berubah menjadi majelis untuk mencari siapa yang bisa saling menguatkan.

Sebab pesantren tidak akan memenangkan masa depan dengan berjalan sendiri-sendiri.

Pesantren akan kuat jika para pengasuhnya kuat dalam ilmu, rendah hati dalam belajar, luas dalam pergaulan, terbuka dalam komunikasi, dan tulus dalam menguatkan satu sama lain.

Itulah ukhuwah.

Itulah kolaborasi.

Dan mungkin, itulah salah satu wajah nyata dari warisan kenabian.

Jadi :
“otoritas adalah amanah, bukan kerajaan”. Kita harus bercermin.

“Mungkin kita tidak kekurangan pesantren. Tetapi kita kekurangan ekosistem pesantren.”

Kita harus membangun kultur grup : etalase → dialog → kolaborasi → ekosistem.