Pembinaan Ukhuwah Telah Lewat Kini Tinggal Musyarakah dan Musabaqah

Dalam paparannya yang disampaikan pada Seminar Nasional “Pesantren Sebagai Benteng NKRI dan Pengawal Moral Panca Sila” yang diselenggarakan usai Launching P2I di Pesantren Darunnajah Jakarta  Prof. Dr. Komarudin Hidayat menyampaikan bahwa Islam itu Agama yang paling kuat warisan tradisinya, terutama dalam hal yang mahdah, kita sedikit sekali yang mempelajari sirah nabawiyah yang langsung, tapi lebih merujuk pada produk ijtihad mazhab-mazhab. Secara mikro Islam itu berjaya pada masa agraris, tidak pada masa industri. Padahal Islam menjadi terlur kemodernan di Barat. Kemudian lebih terjebak pada konflik politik, maka diperlukan inovasi-inovasi ke depan, ilustrasinya ummat Islam itu perlu haji, haji perlu pesawat maka ummat Islam harus memiliki pabrik pesawat, perlu menutup aurat, maka wajib memiliki pabrik garmen dan lainnya.

Maka yang diperlukan fastabiqul khairat, yang ada belomba berbuat baik, bukan berlomba kekakyaan, berlomba pangkat, tapi berlomba berbuat baik sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Kita tidak lagi harus terobsesi dengan ukhuwah, tapi harus kepada musyarkohah, musabaqah dan muawananh, terutama untuk kasus Indonesia. Karena ukhuwah itu untuk suasana di masa ummat senang bertengker, sementara di Indonesia berbeda. Indonesia terlahir karena saham besar para sultan dan kesultanan yang rela menyerahkan kekuasaannya untuk melebur menjadi suatu institusi negara Indonesia, ini fakta, oleh karena itu umat Islam harus memegang negeri ini.

Pada seminar yang diikuti oleh para pengasuh pesantren itu beberapa pemikiran cantik disambut dengan respon luar biasa dari peserta, di ujung pemmaparannya Komar sampaikan bahwa untuk kalangan menengah yang bukan alumni pesenatren malah pesantren jadi pilihan, pesantren yang bagus lebih diminati dari lembaga pendidikan lainnya.

Geliat Kepesantrenan Trend 2017

Bersilaturahim dan bertajammu FPA (Forum Pondok Alumni) Gontor dan Pesantren Penyelenggara Satuan Muadalah Pola Mua’limin di Pondok Pesantren Modern Al-Ishlah, Bondowoso, yang diasuh oleh KH. Muhammad Maksum, Sabtu (9/9) sungguh merupakan anugerah tersendiri. Karena bisa duduk bareng dengan para ulama dan kiai pesantren, mereka adalah para mujahidin yang tidak kenal lelah mendidik generasi bangsa.

Kiai Maksum sebagai tuan rumah menerima para hadirin dengan penuh kehangatan. Wibawa dan kharismanya sangat kuat dirasakan oleh semua yang hadir. Tabung oksigen yang dibawa oleh dua orang santrinya yang tersambung ke hidungnya, yang selalu menyertai langkahnya itu tidak menyurutkannya untuk memberikan sambutan dengan penuh antusias.

“Dalam Al-Quran, orang beriman yang berjihad adalah iman yang shodiq, yang benar, jangan cuma iman saja tapi tidak mau berjihad, dan jihad kita adalah mendidik anak-anak generasi umat, maka seperti saya ini di kasur juga akan mati di medan perang juga akan mati, maka lebih baik mati di medan perang” pesannya kepada para hadirin.

FPA kini beranggotakan sktr 400an lebih pondok alumni. Kriteria keanggotaan FPA adalah pondok yang didirikan dan dipimpin oleh alumni Gontor, atau pondok yang pendirinya bukan alumni Gontor tapi dipimpin oleh alumni Gontor. Ada yang santrinya telah mencapai 10.000 orang lebih, ada yang tengahan berkisar 5000an, dan ada yang masih perintisan di bawah 1000 santri. Jika dirata-rata tiap pondok santrinya 1000 saja, maka dengan 400 pondok terhitung 400 ribu santri.

Ada wacana FPA keanggotaannya akan diperluas kepada pondok-pondok cucu, yaitu pondok yang didirikan oleh alumni pondok alumni Gontor. Jika ini dilakukan maka diperkirakan jumlahnya lebih dari 1000 pondok (anak dan cucu).

Saat ini FPA dipimpin oleh Ketum Dr. KH. Zulkifli Muhadli, MM (Pengasuh PP Al-Ikhlas Taliwang Sumbawa), yang juga mantan Bupati Sumbawa Barat dua periode. Ia menggantikan Ketum FPA sebelumnya, Almarhum KH. Tijani Djauhari, MA, Pendiri PP Al-Amien, Prenduan, Madura.

Saya bersyukur bisa hadir di tengah para kiai sepuh Pengasuh Pondok Alumni Gontor pada tajammu FPA itu. Nampak hadir diantaranya adalah: KH. Muhammad Nasir Zein, MA, Pengasuh PP Rafah, Bogor yang juga imam 7 juta umat pada shalat Jumat di Monas pada 212 tahun 2016 yang lalu; Imam shalat dengan jumlah jamaah terbanyak sepanjang sejarah Islam.  Ada lagi, KH. Dr. Sofwan Manaf, MM Pimpinan PP Darunnajah, Jakarta yang kini santrinya berjumlah sekitar 8000an; KH. Dr. Tata Taufik, Pengasuh PP Al-Ikhlas Kuningan Jawa Barat; KH. Masruri Abdul Muhit, Lc, Pengasuh PP Darul Istiqomah Bondowoso; KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA, Pengasuh PP Al-Amien, Prenduan, Madura yang kini santrinya telah mencapai 8000an; KH. Fahrizal, Lc, Pengasuh PP Al-Amanah, Sidoarjo dengan 1500an santri; KH. Iwan Sofyan Andi, M.Pd, Pengasuh PP Baitul Hidayah, Bandung; KH. Dr. Bukhori Abdul Somad, Pengasuh PP Al-Mujtama Al-Islami, Lampung, dan KH. Drs. Heru Saiful Anwar, MA, Pengasuh PP Walisongo, Ngabar, Ponorogo.

Dari Gontor sebagai ibu kandung dari FPA, nampak hadir Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, MA, Rektor Universitas Darussalam Gontor, Dr. KH. Dihyatun Maskon, MA, Wakil Rektor UNIDA Gontor dan KH. Agus Budiman, M.Pd.I.

Saya punya kesan bahwa para kiai Pengasuh Pondok Alumni Gontor itu rata-rata bergelar master dan doktor. Saya memaknainya bahwa para kiai itu di tengah kesibukannya dalam berjihad merintis dan mengembangkan pondoknya, masih menyisihkan waktu untuk melestarikan tradisi keilmuan yang tinggi. Hal ini sekaligus untuk menjadi contoh dan motivasi bagi para santrinya dalam hal kapasitas akademik.

Berbeda dengan FPA, FPM adalah kumpulan pesantren muadalah baik pesantren yang menerapkan sistem salafiyah, muallimin maupun diniyah formal. Anggotanya saat ini ratusan pesantren baik modern (berafiliasi ke Gontor) maupun salaf. Ketum FPM adalah Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, MA (Gontor) dengan Sekjennya KH. Lukman Haris Dimyati (Pengasuh PP Tremas, Pacitan).

Untuk yang muadalah dengan sistem muallimin dikoordinatori oleh Dr. KH. Tata Taufik (pengasuh PP Al-Ikhlas Kuningan) dan Ustadz Agus Budiman , M.Pd.I dari Gontor.

Saat ini ada sekitar 30an Pondok Alumni Gontor yang telah muadalah, termasuk Pondok Modern Tazakka di Batang Jawa Tengah dan PM Baitul Hidayah Bandung. Kedua pondok ini relatif baru karena berdiri pada tahun 2012 dan 2011. Tazakka dengan santri 500an dan Baitul Hidayah dengan santri 300an.

Muadalah sudah dipayungi dengan PMA (Peraturan Menteri Agama) yang ditandatangani oleh Menag Lukman Hakim Saefuddin yang juga alumni Gontor. Perjalanan perjuangan muadalah sangat panjang dan berdarah-darah, yg dilakukan oleh Ayahanda KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA. Beliau tiada kenal lelah memperjuangkan pondok-pondok alumni yg konsisten mengikuti sistem KMI agar dapat muadalah. Perjuangan dilanjutkan oleh Kiai Amal karena Kiai Syukri detik-detik akhir perjuangan muadalah beliau sakit.

Kini, dengan PMA Muadalah, bagi pondok alumni yang akan mengikuti kaffah sistem KMI jalan terbuka lebar. Tetap mandiri dengan kekhasan sistem KMI, tidak ada intervensi dari luar, namun mendapat pengakuan kesetaraan oleh negara.

Saat ini, yang muadalah pun ijazahnya disamakan oleh Kemenag dengan logo Garuda Emas di kop ijazah dan bernomor induk dari Kemenag Pusat. Sehingga dengan demikian sistem KMI menjadi formal dan setara dengan pendidikan sejenis di levelnya.

Yang menarik adalah bahwa perjuangan muadalah bukan hanya untuk sistem muallimin saja, namun juga mengakomodir salafiyah. Artinya salafiyah pun yang sebagian besar dianut oleh pesantren NU mendapatkan hal yg sama. Kiai Syukri merintis ukhuwah dan persatuan pesantren salaf-modern dalam satu bingkai perjuangan muadalah.

Sekarang, Gontor-Tremas bagaikan dua sisi mata uang dalam konteks perjuangan muadalah hingga terbitnya PMA itu.

Bondowoso, 10 Sept 2017

*Anang Rikza Masyhadi