P2I, FPA Dan PP Tazaka Adakan Dialog Bersama Wakapolri

Beberapa hal teknis dalam pendaftaran alumni pesantren di Akpol menyemangati para pengasuh pesantren untuk berdialog dengan intnasi Kepolisian RI. Dalam pertemuan di PP Daarunnajah Jakarta pada tanggal 8 Februari 2018 lalu, beberapa pengasuh pesantren P2I dan FPA bersepakat untuk melaknanakan Dialog tersebut. Acara dialog yang dirancang akan diselenggarakan di Semarang itu akhirnya bisa terselenggara di PP Tazaka Batang pada 17 April 2018.

Pada kesempatan tersebut KH. Dr. M. Tata Taufik selaku ketua P2I menyampaikan beberapa kendala yang dihadapi alumni pesantren untuk bergabung menjadi anggota Polri maupun melanjutkan ke Akpol, kendala tersebut anatara lain persyaratan UN dan Nilai di atas 7. Hal tersebut disebabkan perbedaan penilaian di beberapa pesantren, pesantren menyajikan nilai hasil ujian akhir apa adanya sebagaimana pencapaian siswa dalam ujian baik lisan maupun tulisan. Karena pesantren lebih menanamkan nilai kejujuran dari pada pencapaian nilai akhir kepada para santrinya. Adapun kelulusan setaip pesantren memiliki standard tersendiri, dalam keterangan nilai yang diberikan ada tiga tingkatan, mumtaz, jayyid jidan dan maqbul. Mumtaz biasanya diberikan kepada sanri yang memiliki nilai rata-rata di atas 7,5 sedangkan jayyid Jidan diberikan kepada santri yang berada di bawahnya. itupun masih ditambah dengan penilaian akhlak dan prilaku keseharian santri.

Kendala berikutnya adalah masalah nomenkelatur dalam persyaratan, syarat pendaftaran Polri berijazah MA, SMA, SMK bukan Ijazah Paket C dengan demikian santri dari pesantren yang tidak memiliki Ijazah tersebut tidak bisa masuk, untuk itu diusulkan agar ada tambahan nomenkelatur yang mencantumkan Ijazah pesantren yang telah dimuadalahkan (pesantren Muadalah; pesantren yang sudah diakui kesetaraan lulusannya dengan lulusan sekolah formal oleh pemerintah).

Menanggapi hal tersebut Wakapolri Komjen. Pol. Drs. Syafruddin, M.Si menyatakan bahwa mengenai persyaratan teknis akan disesuaikan dengan kenyataan di lapangan, jika belum ada peraturannya maka peraturannya akan dibuat. tapi mungkin tidak bisa pada pendaftaran tahun ini, mungkin tahun depan. Ujarnya.

Acara yang didukung oleh berbagai organisasi kepesantrenan seperti RMI-NU, ITMAM, FKM Jateng, P2I, FPA dan DMI tersebut berjalan selama durasi 2 jam.

Dari Pertemuan Wakil Rektor Universitas Islam Madinah Dengan Para Pengasuh Pesantren

Kunjungan Prof Dr. Ibrohim Bin Ali Al-Ubaid, dan Prof. Dr. Mahmud Bin Abdurrahman Qodah Wakil Rektor Universitas Islam Madinah (UIM) ke Indonesia yang dipasilitasi oleh Pesantren Darunnajah Jakarta, diawali dengan cara pertemuan dengan sejumlah kiai pengasuh peantren,selanjutnya pada hari Senin 26 Maret mereka diagendakan bertemu dengan Menteri Agama, Dirjen Pendis dan Direktur PD Pontren.
Pada Pertemuan di Shangri La, Hotel Jakarta, Sabtu, 24 Maret 2018 disampaikan beberapa hal berikut:
  1. Kerjasama Indonesia – UIM sdh berjalan lbh dari 30 tahun, perlu dilestarikan dan ditingkatkan.UIM hampir setengah abad berdiri, dan telah meluluskan lebih dari 70.000 sarjana dari lebih 150 warga negara di seluruh dunia (salah satunya adalah WNI).
  2. Saat ini, tiap tahun ada kuota 300 beasiswa full utk mahasiswa Indonesia di UIM. Kuota ini dirasakan kedua belah pihak perlu ditambah, mengingat demografi Indonesia yg besar, dan UIM menyetujuinya.Penambahan kuota disepakati dg sistem “beasiswa berbayar” _(al-minhah al-madfu’atus-saman)_, yaitu 30 ribu Reyal Saudi per tahun per mahasiswa.Beasiswa yang diterma oleh tiap mahasiswa di UIM, per tahun mencapai 75 ribu Reyal Saudi, meliputi tiket kedatangan, tiket liburan, uang saku bulanan, makan, tempat tinggal, uang buku, uang kesehatan, dll.
  3. Untuk yang tambahan kuota, mahasiswa cukup bayar 30 ribu reyal saja, dan akan mendapatkan fasiltas tsb di atas senilai 75 ribu reyal.
  4. Disepakati utk memperbanyak seminar, pelatihan2 dan kerjasama keilmuan lainnya./ARM

Sekretaris Dirjen Pendis Terima Kunjungan Pengurus P2I

Jakarta, Senin 12 Maret 2018, Rombongan Pengurus P2I yang terdiri dari Ketua Dr. HM. Tata Taufik, Ketua Dewan Pembina KH. Dr. Sofwan Manaf, KH Abdul Kholiq M. Ag wakil ketua P2I, Seksi Kerjasama Antar Lembaga dan Luar Negeri KH. Anang Rizka MA, KH. Wildan dari Yayasan Almagfiroh Bogor diterima oleh Sek Dirjen Pendis Prof. Dr. Ishom Yusqi. Pertemuaan yang diagendakan seminggu sebelumnya bersama Dirjen Pendis tersebut direncanakan untuk membahas tindak lanjut atas tawaran beasiswa berbayar dari Universitas Islam Madinah.

Sek Dirjen Pendis Terima Kunjungan Pengurus P2I

Dalam pertemuan tersebut Sek Dirjen Pendis didampingi oleh Drs. Agus Sholeh M. Ed Kasubdit Kelembagaan Diktis dan Rusydi M.Pd, dari PAI. Menanggapi tawaran beasiswa berbayar yang ditawarkan Universitas Islam Madinah, Agus menjelaskan bahwa telah ada kunjungan dari pihak Kemenag ke Madinah, namun mengenai informasi tersebut belum dikomunikasikan, adapun kerjasama yang dijalin sementara ini baru dengan beberapa Universitas di Riyadh. Menurutnya jika akan dijalin kerjasama baiknya antara negara, sehingga ketika calon mahasiswa dinyatakan lulus tenting ke perguruan tinggi di Arab Saudi, maka ia bisa diterima di perguruan tinggi seluruh Saudi.

Adaupun berkenaan dengan pesantren Ishom menyampaikan bahwa bisa dirancang kerjasama dengan pesantren, juga dengan diktis. Menanggapi hal tersebut Sofwan Manaf menyatakan bahwa kami menunggu konsep kerjasama dari Kemenag untuk kami kamunikasikan dengan pihak Universitas.

Ketua P2I Beserta Rombongan Kunjungi Direktur PD-Pontren

Jakarta, Senin 5 Maret 2018 presiden Perhimpunan Pengasuh Pesantren Indonesia (P2I) kunjungi Direktur PD-Pontren Dr. H. Ahmad Zayadi. Rombongan yang terdiri dari ketua P2I Dr. H. M. Tata Taufik (PP Al-Ikhlash Kuningan),  Ketua Dewan Pembina KH. Dr. Sofwan Manaf (PP Darunnajah Jakarta) dan KH. Anang Rizka MA (PP Tazaka Batang)  selaku pengurus seksi kerjasama antar lembaga dan luar negeri itu menyampaikan berbagai hal terkait dengan informasi beasiswa berbayar yang ditawarkan Universitas Islam Madinah kepada calon mahasiswa asal Indonesia.

Suasana Kunjungan Pengurus P2I ke Dir Pd Pontren Kemenag RI

Pada kesempatan itu juga didiskusikan pola dalam menangkap tawaran tersebut, menurut Zayadi hal itu bisa saja kita tangkap dengan menawarkan kerjasama anatara Universitas dengan Kemenag RI, mengingat sementara ini kerjasama masih bersifat langsung antara lembaga-dengan lembaga, belum terbentuk antara Negara dengan Lembaga atau antara Kemenag dengan Lembaga yang bersangkutan. namun masih perlu pendalaman model kerjasama dan wewenang dari masing-masing pihak yang terkait. Untuk itu Zayadi mengundang rombongan agar bisa bertemu dengan Dirjen Pendis pada pertemuan mendatang yang diagendakan pada Senin 12 Maret 2018.

 

Daar El-Qolam Gintung Adakan Seminar Pendidikan Islam

Pondok Pesantren Daar El-Qolam Gintung Balaraja Tanggerang dalam rangkaian milad ke 50 mengadakan Seminar Internasional bertajuk ‘Konstruksi Pendidikan Islam Ke Depan dan Kerjasama Internasional”.

Seminar yang melibatkan Dr. Arifin Ismail (Malaysia) Prof Dr. Amal Fathullah UNIDA Gontor dan Dr. Ahmad Zayadi Direktur PD Pontren Kemenag RI itu mencoba menggali koksep pendidikan asli Indonesia dalam rangka membangun model pendidikan Islam ke depan.

Prof Amal Fathullah mengungkapkan bahwa ada perbedaan konsep dan filosofis antara pendidikan pesantren dan pendidikan kolonial.

Bahwa filosofis  pendidikan pesantren adalah “talabul ilmu Lillah, atau “talabul ilmi Lill ibadah”, berbeda dengan filosofis pendidikan kolonial yaitu “ Mencari ilmu untuk menjadi pegawai atau buruh.”

Pada dasarnya pendidikan pesantren mesti meliputi tiga hal, pertama: keislaman, kedua: keilmuwan, dan ketiga, kemasyarakatan. Pertama, artinya Suatu pesantren mutlak untuk mengajarkan “dirosat Islamiyah”disamping ilmu pengetahuan umum lanjutnya, adapun kiat  untuk memajukan pendidikan pesantren itu banyak, diantaranya mengetrapkan disiplin dan menjaganya dengan baik, kwalitas dan mutu guru dan muridnya dijaga, kelengkapan  sarana dan prasarana, Insyallah hal itu dapat membangun  kepercayaan masyarakat. Di akhir paparannya beliau simpulkan bahwa lembaga pendidikan Islam di Indonesia bila di kelola dengan baik dan serius dapat menghasilkan alumni yang berkwalitas, berperan secara riil, dan  bermanfaat buat umat dan bangsa.

Sementara Direktur Pd Pontren Ahmad Zayadi menyampaikan bahwa pesantren ke depan harus bisa menata dirinya sehinggga bisa menjadi destinasi pendidikan tidak saja nasional tapi internasional, saat ini ada beberapa santri dari luar negeri yang menjadikan pesantren sebagai destinasi pendidikan Islam, bahkan ada dari Saudi Arabia, Sudan, Malaysia dan lainnya. Untuk bisa lebih bersifat internasional memang harus dikembangkan pembelajaran dengan bahasa internasional juga seperti bahasa Arab dan Inggris.

Sementara Dr. Arifin Ismail lebih menekankan pada pembangunan networking pesantren dengan mengandalkan teknologi yang ada. Bila perlu lulusan pesantren sudah dibekali dengan bahasa Arab atau bahasa Inggris dengan standar yang berlaku di dunia pendidikan.

Dari seminar ini direkomendasikan bahwa Indonesia mestinnya bangga memiliki model pendidikan asli yang harus dipelihara dan dikembangkan. Senantiasa terus digali- nilai-nilai dasar kepesantrenan untuk dikomunikasikan keunggulan-keunggulan yang dimiliki model tersebut kepada dunia internasional, sehingga bisa memberikan tawaran model pendidikan secara lebih nyata.

Pembinaan Ukhuwah Telah Lewat Kini Tinggal Musyarakah dan Musabaqah

Dalam paparannya yang disampaikan pada Seminar Nasional “Pesantren Sebagai Benteng NKRI dan Pengawal Moral Panca Sila” yang diselenggarakan usai Launching P2I di Pesantren Darunnajah Jakarta  Prof. Dr. Komarudin Hidayat menyampaikan bahwa Islam itu Agama yang paling kuat warisan tradisinya, terutama dalam hal yang mahdah, kita sedikit sekali yang mempelajari sirah nabawiyah yang langsung, tapi lebih merujuk pada produk ijtihad mazhab-mazhab. Secara mikro Islam itu berjaya pada masa agraris, tidak pada masa industri. Padahal Islam menjadi terlur kemodernan di Barat. Kemudian lebih terjebak pada konflik politik, maka diperlukan inovasi-inovasi ke depan, ilustrasinya ummat Islam itu perlu haji, haji perlu pesawat maka ummat Islam harus memiliki pabrik pesawat, perlu menutup aurat, maka wajib memiliki pabrik garmen dan lainnya.

Maka yang diperlukan fastabiqul khairat, yang ada belomba berbuat baik, bukan berlomba kekakyaan, berlomba pangkat, tapi berlomba berbuat baik sesuai dengan kapasitas yang dimiliki. Kita tidak lagi harus terobsesi dengan ukhuwah, tapi harus kepada musyarkohah, musabaqah dan muawananh, terutama untuk kasus Indonesia. Karena ukhuwah itu untuk suasana di masa ummat senang bertengker, sementara di Indonesia berbeda. Indonesia terlahir karena saham besar para sultan dan kesultanan yang rela menyerahkan kekuasaannya untuk melebur menjadi suatu institusi negara Indonesia, ini fakta, oleh karena itu umat Islam harus memegang negeri ini.

Pada seminar yang diikuti oleh para pengasuh pesantren itu beberapa pemikiran cantik disambut dengan respon luar biasa dari peserta, di ujung pemmaparannya Komar sampaikan bahwa untuk kalangan menengah yang bukan alumni pesenatren malah pesantren jadi pilihan, pesantren yang bagus lebih diminati dari lembaga pendidikan lainnya.

Geliat Kepesantrenan Trend 2017

Bersilaturahim dan bertajammu FPA (Forum Pondok Alumni) Gontor dan Pesantren Penyelenggara Satuan Muadalah Pola Mua’limin di Pondok Pesantren Modern Al-Ishlah, Bondowoso, yang diasuh oleh KH. Muhammad Maksum, Sabtu (9/9) sungguh merupakan anugerah tersendiri. Karena bisa duduk bareng dengan para ulama dan kiai pesantren, mereka adalah para mujahidin yang tidak kenal lelah mendidik generasi bangsa.

Kiai Maksum sebagai tuan rumah menerima para hadirin dengan penuh kehangatan. Wibawa dan kharismanya sangat kuat dirasakan oleh semua yang hadir. Tabung oksigen yang dibawa oleh dua orang santrinya yang tersambung ke hidungnya, yang selalu menyertai langkahnya itu tidak menyurutkannya untuk memberikan sambutan dengan penuh antusias.

“Dalam Al-Quran, orang beriman yang berjihad adalah iman yang shodiq, yang benar, jangan cuma iman saja tapi tidak mau berjihad, dan jihad kita adalah mendidik anak-anak generasi umat, maka seperti saya ini di kasur juga akan mati di medan perang juga akan mati, maka lebih baik mati di medan perang” pesannya kepada para hadirin.

FPA kini beranggotakan sktr 400an lebih pondok alumni. Kriteria keanggotaan FPA adalah pondok yang didirikan dan dipimpin oleh alumni Gontor, atau pondok yang pendirinya bukan alumni Gontor tapi dipimpin oleh alumni Gontor. Ada yang santrinya telah mencapai 10.000 orang lebih, ada yang tengahan berkisar 5000an, dan ada yang masih perintisan di bawah 1000 santri. Jika dirata-rata tiap pondok santrinya 1000 saja, maka dengan 400 pondok terhitung 400 ribu santri.

Ada wacana FPA keanggotaannya akan diperluas kepada pondok-pondok cucu, yaitu pondok yang didirikan oleh alumni pondok alumni Gontor. Jika ini dilakukan maka diperkirakan jumlahnya lebih dari 1000 pondok (anak dan cucu).

Saat ini FPA dipimpin oleh Ketum Dr. KH. Zulkifli Muhadli, MM (Pengasuh PP Al-Ikhlas Taliwang Sumbawa), yang juga mantan Bupati Sumbawa Barat dua periode. Ia menggantikan Ketum FPA sebelumnya, Almarhum KH. Tijani Djauhari, MA, Pendiri PP Al-Amien, Prenduan, Madura.

Saya bersyukur bisa hadir di tengah para kiai sepuh Pengasuh Pondok Alumni Gontor pada tajammu FPA itu. Nampak hadir diantaranya adalah: KH. Muhammad Nasir Zein, MA, Pengasuh PP Rafah, Bogor yang juga imam 7 juta umat pada shalat Jumat di Monas pada 212 tahun 2016 yang lalu; Imam shalat dengan jumlah jamaah terbanyak sepanjang sejarah Islam.  Ada lagi, KH. Dr. Sofwan Manaf, MM Pimpinan PP Darunnajah, Jakarta yang kini santrinya berjumlah sekitar 8000an; KH. Dr. Tata Taufik, Pengasuh PP Al-Ikhlas Kuningan Jawa Barat; KH. Masruri Abdul Muhit, Lc, Pengasuh PP Darul Istiqomah Bondowoso; KH. Dr. Ahmad Fauzi Tidjani, MA, Pengasuh PP Al-Amien, Prenduan, Madura yang kini santrinya telah mencapai 8000an; KH. Fahrizal, Lc, Pengasuh PP Al-Amanah, Sidoarjo dengan 1500an santri; KH. Iwan Sofyan Andi, M.Pd, Pengasuh PP Baitul Hidayah, Bandung; KH. Dr. Bukhori Abdul Somad, Pengasuh PP Al-Mujtama Al-Islami, Lampung, dan KH. Drs. Heru Saiful Anwar, MA, Pengasuh PP Walisongo, Ngabar, Ponorogo.

Dari Gontor sebagai ibu kandung dari FPA, nampak hadir Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, MA, Rektor Universitas Darussalam Gontor, Dr. KH. Dihyatun Maskon, MA, Wakil Rektor UNIDA Gontor dan KH. Agus Budiman, M.Pd.I.

Saya punya kesan bahwa para kiai Pengasuh Pondok Alumni Gontor itu rata-rata bergelar master dan doktor. Saya memaknainya bahwa para kiai itu di tengah kesibukannya dalam berjihad merintis dan mengembangkan pondoknya, masih menyisihkan waktu untuk melestarikan tradisi keilmuan yang tinggi. Hal ini sekaligus untuk menjadi contoh dan motivasi bagi para santrinya dalam hal kapasitas akademik.

Berbeda dengan FPA, FPM adalah kumpulan pesantren muadalah baik pesantren yang menerapkan sistem salafiyah, muallimin maupun diniyah formal. Anggotanya saat ini ratusan pesantren baik modern (berafiliasi ke Gontor) maupun salaf. Ketum FPM adalah Prof. Dr. KH. Amal Fathullah Zarkasyi, MA (Gontor) dengan Sekjennya KH. Lukman Haris Dimyati (Pengasuh PP Tremas, Pacitan).

Untuk yang muadalah dengan sistem muallimin dikoordinatori oleh Dr. KH. Tata Taufik (pengasuh PP Al-Ikhlas Kuningan) dan Ustadz Agus Budiman , M.Pd.I dari Gontor.

Saat ini ada sekitar 30an Pondok Alumni Gontor yang telah muadalah, termasuk Pondok Modern Tazakka di Batang Jawa Tengah dan PM Baitul Hidayah Bandung. Kedua pondok ini relatif baru karena berdiri pada tahun 2012 dan 2011. Tazakka dengan santri 500an dan Baitul Hidayah dengan santri 300an.

Muadalah sudah dipayungi dengan PMA (Peraturan Menteri Agama) yang ditandatangani oleh Menag Lukman Hakim Saefuddin yang juga alumni Gontor. Perjalanan perjuangan muadalah sangat panjang dan berdarah-darah, yg dilakukan oleh Ayahanda KH. Dr. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA. Beliau tiada kenal lelah memperjuangkan pondok-pondok alumni yg konsisten mengikuti sistem KMI agar dapat muadalah. Perjuangan dilanjutkan oleh Kiai Amal karena Kiai Syukri detik-detik akhir perjuangan muadalah beliau sakit.

Kini, dengan PMA Muadalah, bagi pondok alumni yang akan mengikuti kaffah sistem KMI jalan terbuka lebar. Tetap mandiri dengan kekhasan sistem KMI, tidak ada intervensi dari luar, namun mendapat pengakuan kesetaraan oleh negara.

Saat ini, yang muadalah pun ijazahnya disamakan oleh Kemenag dengan logo Garuda Emas di kop ijazah dan bernomor induk dari Kemenag Pusat. Sehingga dengan demikian sistem KMI menjadi formal dan setara dengan pendidikan sejenis di levelnya.

Yang menarik adalah bahwa perjuangan muadalah bukan hanya untuk sistem muallimin saja, namun juga mengakomodir salafiyah. Artinya salafiyah pun yang sebagian besar dianut oleh pesantren NU mendapatkan hal yg sama. Kiai Syukri merintis ukhuwah dan persatuan pesantren salaf-modern dalam satu bingkai perjuangan muadalah.

Sekarang, Gontor-Tremas bagaikan dua sisi mata uang dalam konteks perjuangan muadalah hingga terbitnya PMA itu.

Bondowoso, 10 Sept 2017

*Anang Rikza Masyhadi