Daar El-Qolam Gintung Adakan Seminar Pendidikan Islam

Pondok Pesantren Daar El-Qolam Gintung Balaraja Tanggerang dalam rangkaian milad ke 50 mengadakan Seminar Internasional bertajuk ‘Konstruksi Pendidikan Islam Ke Depan dan Kerjasama Internasional”.

Seminar yang melibatkan Dr. Arifin Ismail (Malaysia) Prof Dr. Amal Fathullah UNIDA Gontor dan Dr. Ahmad Zayadi Direktur PD Pontren Kemenag RI itu mencoba menggali koksep pendidikan asli Indonesia dalam rangka membangun model pendidikan Islam ke depan.

Prof Amal Fathullah mengungkapkan bahwa ada perbedaan konsep dan filosofis antara pendidikan pesantren dan pendidikan kolonial.

Bahwa filosofis  pendidikan pesantren adalah “talabul ilmu Lillah, atau “talabul ilmi Lill ibadah”, berbeda dengan filosofis pendidikan kolonial yaitu “ Mencari ilmu untuk menjadi pegawai atau buruh.”

Pada dasarnya pendidikan pesantren mesti meliputi tiga hal, pertama: keislaman, kedua: keilmuwan, dan ketiga, kemasyarakatan. Pertama, artinya Suatu pesantren mutlak untuk mengajarkan “dirosat Islamiyah”disamping ilmu pengetahuan umum lanjutnya, adapun kiat  untuk memajukan pendidikan pesantren itu banyak, diantaranya mengetrapkan disiplin dan menjaganya dengan baik, kwalitas dan mutu guru dan muridnya dijaga, kelengkapan  sarana dan prasarana, Insyallah hal itu dapat membangun  kepercayaan masyarakat. Di akhir paparannya beliau simpulkan bahwa lembaga pendidikan Islam di Indonesia bila di kelola dengan baik dan serius dapat menghasilkan alumni yang berkwalitas, berperan secara riil, dan  bermanfaat buat umat dan bangsa.

Sementara Direktur Pd Pontren Ahmad Zayadi menyampaikan bahwa pesantren ke depan harus bisa menata dirinya sehinggga bisa menjadi destinasi pendidikan tidak saja nasional tapi internasional, saat ini ada beberapa santri dari luar negeri yang menjadikan pesantren sebagai destinasi pendidikan Islam, bahkan ada dari Saudi Arabia, Sudan, Malaysia dan lainnya. Untuk bisa lebih bersifat internasional memang harus dikembangkan pembelajaran dengan bahasa internasional juga seperti bahasa Arab dan Inggris.

Sementara Dr. Arifin Ismail lebih menekankan pada pembangunan networking pesantren dengan mengandalkan teknologi yang ada. Bila perlu lulusan pesantren sudah dibekali dengan bahasa Arab atau bahasa Inggris dengan standar yang berlaku di dunia pendidikan.

Dari seminar ini direkomendasikan bahwa Indonesia mestinnya bangga memiliki model pendidikan asli yang harus dipelihara dan dikembangkan. Senantiasa terus digali- nilai-nilai dasar kepesantrenan untuk dikomunikasikan keunggulan-keunggulan yang dimiliki model tersebut kepada dunia internasional, sehingga bisa memberikan tawaran model pendidikan secara lebih nyata.